Inilah Metabolisme Karbohidrat Pada Ruminansia

Metabolisme Karbohidrat pada Ruminansia

Terdapat perbedaan mendasar antara ruminansia dan monogastrik dalam metabolisme karbohidrat, yaitu: jalur metabolisme dan produk akhir yang dihasilkan.

Tanaman makanan ternak mengandung: 20 � 30% BK selulosa, 14 � 20% BK hemiselulosa, dan kurang dari 10% BK pektin dimana 2 -12% BK adalah lignin.

Ruminansia mempunyai mikroorganisme di dalam retikulorumen yang mensekresikan enzim-enzim sehingga dapat mencerna makanan yang masuk.Bagian terbesar karbohidrat terdiri dari: yang mudah larut (gula dan pati) dan yang sukar larut (selulosa dan hemiselulosa, misal hijauan dan limbah serat). Keduanya ini difermentasikan oleh mikroba rumen membentuk VFA (asam lemak terbang/atsiri) di dalam rumen dan retikulum. Pemecahan  karbohidrat menjadi VFA terjadi di rumen terdiri dari 2 tahap: 1). Hidrolisis ekstraseluler dari karbohidrat kompleks (selulosa, hemiselulosa, pektin) menjadi oligosakarida rantai pendek terutama disakarida (selobiosa, maltosa, pentosa) dan gula-gula sederhana. 2). Pemecahan oligosakarida dan gula-gula sederhana menjadi VFA oleh aktifitas enzim intraseluler. Proses ini ditampilkan pada Gambar 4.2. dan 4.3.

Komposisi VFA terbanyak di dalam cairan rumen adalah: asam asetat, propionat dan butirat sedangkan yang dalam jumlah kecil: asam format, isobutirat, valerat, isovalerat dan kaproat. Pemecahan protein oleh bakteri juga menghasilkan asam lemak berantai cabang yang terdapat dalam jumlah kecil tersebut.

Dalam pencernaan  ini dihasilkan pula produk ikutan berupa beberapa gas: metan (CH4), CO2 dan H2; yang dikeluarkan dari tubuh melalui proses eruktasi (belching/ bersendawa).

Sejumlah kecil karbohidrat yang dicerna dan sebagian dari polimer-polimer karbohidrat yang lolos dari fermentasi mikroba di perut depan akan masuk ke usus halus, dicerna selanjutnya diserap.

Asam lemak terbang (VFA) yang dominan (Asetat, Propionat, dan Butirat) akan diserap melalui dinding rumen, masuk ke dalam sirkulasi darah dan di transportasikan ke jaringan tubuh ternak.

Senyawa-senyawa tersebut selanjutnya akan mengalami proses metabolisme:

  1. Katabolisme, yang mensuplai energi, dan
  2. Biosintesis misalnya: biosintesis lemak susu dari asam asetat dan butirat; biosintesis glukosa dari asam propionat di dalam jaringan tubuh ternak.

Dalam metabolisme di jaringan dilibatkan pula sistem enzim, sehingga produk akhir metabolisme tersebut dapat dimanfaatkan.

Karena ruminansia dapat mensintesis glukosa dari asam propionat di dalam rumen, dan fungsinya sebagai energi tidak terlalu besar diharapkan oleh ruminansia (monogastrik: glukosa adalah sumber energi utama) maka glukosa di jaringan menjadi terbatas (di dalam darah: 40-70 mg%, sedang monogastrik 100 mg%). namun pada ternak baru lahir (pre-ruminan) sama dengan monogastrik, glukosa dalam darah: 100-120 mg%.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • I 211 05 015  On November 20, 2011 at 12:54 am

    Luar Biasa Mas Tono udah rajin ngepost artikel2 terutama peternakan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: