# Bagaimana Cara Pembuatan Silase

Untuk teman-teman mahasiswa pertanian & peternakan yang ingin mengetahui Bagaiman cara Pembuatan silase berikut :

Cara pembuatan jerami fermentasi atau silase jerami dengan menggunakan bahan tambahan urea adalah :

1) Jerami padi ditambahkan urea sebanyak 4 % dalam 100 kg jerami.

2) Urea padatan sebanyak 4% dilarutkan dengan sedikit air supaya lebih merata saat disemprotkan.

3) Jerami ditumpuk, lalu baru disemprotkan larutan urea diatasnya dan kembali diberi jerami, dan seterusnya hingga jerami habis.

4) Setelah selesai jerami tadi ditutup agar terjadi reaksi anaerob dan didiamkan selama 2 minggu.

5) Setelah 2 minggu, jerami fermentasi sudah dapat diberikan

Proses amoniasi ini dapat meningkatkan unsure-unsur kandungan nutrisi jerami padi yaitu dapat meningkatkan protein kasar dari 4% menjadi 7% serta dapat meningkatkan nilai palatabilitas dan kecernaan.

Pengertian Molasses ?

Molases merupakan hasil samping pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pond dkk., (1995) yang menyatakan bahwa molasses adalah limbah utama industri pemurnian gula. Molases merupakan sumber energi yang esensial dengan kandungan gula didalamnya. Oleh karena itu, molasses telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak dengan kandungan nutrisi atau zat gizi yang cukup baik. Molasses memiliki kandungan protein kasar 3,1 %; serat kasar 0,6 %; BETN 83,5 %; lemak kasar 0,9 %; dan abu 11,9 %.

Molasses dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Cane-molasses, merupakan molasses yang memiliki kandungan 25 – 40 % sukrosa dan 12 – 25 % gula pereduksi dengan total kadar gula 50 – 60 % atau lebih. Kadar protein kasar sekitar 3 % dan kadar abu sekitar 8 – 10 %, yang sebagian besar terbentuk dari K, Ca, Cl, dan garam sulfat; (2) Beet-molasses­ merupakan pakan pencahar yang normalnya diberikan pada ternak dalam jumlah kecil (Cheeke, 1999; McDonald dkk., 2001).

Kadar air dalam cairan molasses yaitu 15 – 25 % dan cairan tersebut berwarna hitam serta berupa sirup manis. Molasses yang diberikan pada level yang tinggi dapat berfungsi sebagai pencahar, akibat kandungan mineralnya cukup tinggi. Mollases dapat diberikan pada ternak ayam, babi, sapi dan kuda. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian mollases pada ransum ternak ruminansia adalah sebanyak 5 % yang terdiri dari jagung, dedak padi, tepung ikan, rumput gajah secara nyata dapat meningkatkan bobot badan. Akan tetapi penggunaan lebih dari 5 % akan berdampak negatif, yaitu berkurangnya peningkatan bobot badan karena energi pakan yang dihasilkan terlalu tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, molases sering dimasukkan ke dalam ransum sebanyak 2 sampai 5 % untuk meningkatkan palatabilitas pakan. Molases dapat berfungsi sebagai pellet binder yang dalam pelaksanaanya dapat meningkatkan kualitas pelet. Penggunaan molasses pada industri pakan dengan level diatas 5 – 10 %, molasses dapat menyebabkan masalah, karena kekentalan dan terjadi pembentukan gumpalan pada mixer. Molases juga dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk sejumlah industri fermentasi.

Selain memiliki fungsi yang bermanfaat sebagai pakan ternak, molasses juga dapat menyebabkan keracunan (molasses toxicity). Gejala-gejala yang dapat terlihat yaitu terjadinya inkoordinasi dan kebutaan yang disebabkan oleh deteorisasi otak yang hampir sama dengan nekrosi serebrokortikal. Keracunan tersebut kemungkinan disebabkan oleh defisiensi thiamin (Vitamin B1), menurunnya suplai glukosa ke dalam otak dan rumen statis. Pemberian hijauan berkualitas baik pada ternak dapat mencegah terjadinya keracunan tersebut.

Contoh dari penggunaan molasses dalam ransum pakan yaitu melalui pengolahan pakan UMB (Urea Molasses Block) yang merupakan sumber protein (Non Protein Nitrogen), energi dan mineral yang banyak dibutuhkan temak. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan urea molasses block antara lain molasses sebagai sumber energi, pupuk urea sebagai sumber nitrogen (protein) dan bahan pengisis berupa dedak padi,gandum, bungkil kelapa, bungkil biji kapuk, sebagai bahan pengeras dipakai bentonit, tepung batu gamping dan sebagai bahan tambahan dipakai garam dapur dan mineral campuran.

Protect your Privacy with Private Domain Registrations

Protect your Privacy with Private Domain Registrations.

Pengaruh Iklim terhadap Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok

Pengaruh Iklim terhadap Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok

Hewan mamalia dan burung bersifat homeotermik, artinya suhu tubuhnya selalu konstan, yang berkisar antara 36 � 42 oC. Oleh sebab itu apabila tubuh menghasilkan energi bentuk panas, maka panas tersebut harus dikeluarkan. Proses pengeluaran panas tubuh tergantung dari perbedaan suhu tubuh dengan suhu lingkungannya.

Pada umumnya untuk memelihara suhu tubuhnya hewan sangat terpengaruh oleh lingkungan. Sebagai contoh babi kondisi basal dan dipelihara pada suhu 25oC, dipuasakan dan kondisi istirahat maka jika suhu udaranya diturunkan secara bertahap babi akan kehilangan panas lebih cepat sampai ketingkat suhu tubuh yang terendah. Babi dapat mempertahankan suhu tubuhnya dengan cara meningkatkan produksi panas (PP) tubuh melalui aktivitas otot dan menggigil. Temperatur kritis adalah temperature yang rendah dimana produksi panas mulai meningkat (pada suhu 20oC). Pada babi yang puasa, produksi panas juga dihasilkan untuk memelihara suhu tubuhnya dan lebih rendah dibandingkan babi yang diberi makan, hal ini disebabkan karena adanya HI dari proses pencernaan dan metabolisme pakan dari babi.  Pada suhu di bawah 20oC, babi memerlukan konsumsi energi lebih tinggi untuk mengimbangi suhu lingkungan yang rendah, sedangkan  babi yang dipelihara pada suhu 25oC  tidak perlu ada ekstra energi karena suhu lingkungannya  sudah nyaman. Titik efektif temperature kritis yaitu suhu pada 5oC dimana biasanya hewan memproduksi panas secara berlebih melalui proses mengggigil.  Selisih antara PP setelah makan dengan PP saat puasa itulah yang disebut dengan HI (Heat Increament).

Inilah Kebutuhan Zat Makanan Non Ruminansia

Kebutuhan Zat Makanan untuk Non Ruminansia :

Definisi standar zat makanan adalah sejumlah nutrien yang dibutuhkan oleh hewan, baik untuk hidup pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan zat makanan ini tergantung pada  species, umur, bobot badan dan status faali.  Unit per satuan kebutuhan nutrien yang digunakan untuk mengekspresikan standar zat makanan tersebut bermacam-macam, seperti contoh untuk kebutuhan energi digunakan satuan DE, ME dan NE sedangkan untuk kebutuhan protein digunakan istilah PK (Protein Kasar), Kecernaan PK , atau Nilai Biologi. Menurut NRC (1994),  kebutuhan zat makanan untuk bangsa unggas dikategorikan lebih rinci seperti kebutuhan untuk ayam (pedaging dan peterlur), kalkun, angsa, bebek dan puyuh.  Lebih jauh lagi kebutuhan zat makanan untuk ayam petelur masih dibedakan lagi berdasarkan strain (white-egg atau brown-egg). Kebutuhan protein terinci sampai pada tingkat asam amino, kebutuhan mineral sampai pada yang makro dan mikro dan kebutuhan vitamin lengkap dari yang larut dalam lemak maupun yang larut dalam air, untuk masing-masing umur yang berbeda. Apabila  kebutuhan nutrien telah sesuai dengan standar NRC, maka BB dan produksi dapat dijadikan patokan dari jumlah konsumsi energi metabolis (ME), seperti pada Tabel 10.2 berikut ini.
Tabel 10.2.  Perkiraan kebutuhan ME berdasarkan BB dan % produksi telur

 

BB (kg)

% Produksi Telur

0

50

60

70

80

90

1.0

130

192

205

217

299

242

1.5

177

239

251

264

276

289

2.0

218

280

292

305

317

330

2.5

259

321

333

346

358

371

3.0

296

358

370

383

395

403

   NRC for Poultry (1994)

Fungsi dan Kontrol Metabolis Glukosa Pada Ruminansia

Berikut Fungsi Metabolis Glukosa pada Ruminansia :

  • Sumber utama energi di jaringan syaraf terutama di otak dan sel-sel darah merah.
  • Untuk metabolisme otot dan produksi glikogen (persendian energi di otot dan di hati).
  • Pada ternak laktasi digunakan untuk prekursor utama dari pembentukan laktosa dan gliserol (komponen lemak susu) dan suplai nutrisi untuk janin. Kebutuhan glukosa ini meningkat pada akhir kebuntingan.
  • Untuk pembentukan NADPH ï¿½ diperlukan untuk sintesis Asam lemak rantai panjang NADPH dari oksidasi glukosa via jalur pentosa-fosfat.

dan Kontrol Metabolisme Glukosa

Insulin dan glukagon mengatur produksi glukosa ruminansia dan mengontrol homeostasis glukosa terutama di dalam darah. Insulin : mengurangi produksi glukosa dari propionat dan prekurson glukosa lainnya.

Glukagon (>< insulin) ï¿½ mendukung glukoneogenesis dari prekursor glukosa dan melepaskan glukosa dari glikogen hati.

Pencernaan Karbohidrat di dalam Usus Ruminansia

Bagaimana Pencernaan Karbohidrat di dalam Usus Ruminansia Bekerja ?

Karbohidrat tercerna (pati, selulosa dan hemi selulosa) dan polisakarida seluler dari mikroba yang lolos dari fermentasi rumen, akan masuk ke dalam usus sebagai digesta, jumlahnya 10-20% dari karbohidrat yang dicerna.

Jumlah selulosa atau pati yang tahan dari degradasi rumen dipengaruhi oleh pakan itu sendiri atau prosesing. Misalnya pati dari jagung giling dapat dicerna � 20% nya di usus halus oleh enzim yang sama dengan monogastrik. pencernaan pati di usus halus  menghasilkan energi yang dapat digunakan oleh induk semang lebih efisien daripada didegradasi oleh mikroba rumen, dimana akan hilang sebagai CH4 atau panas.

Selulosa, hemiselulosa dan pati yang lolos dari usus halus difermentasi di dalam cecum menjadi VFA, CO2 dan CH4 dengan jalur yang sama dengan di dalam rumen. VFA yang terbentuk di cecum ini (ruminan atu kuda) di serap masuk ke dalam sirkulasi dan digunakan di jaringan, hal yang sama terjadi di dalam rumen.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi VFA di dalam Rumen

Inilah Faktor yang Mempengaruhi Produksi VFA di dalam Rumen

  • Makanan serat (sumber hijauan) akan menghasilkan lebih banyak asetat daripada propionat sehingga lebih sesuai untuk ternak berproduksi air susu (kadar lemak tinggi).
  • Makanan pati (biji-bijian/ konsentrat tinggi) menghasilkan propionat tinggi, sesuai untuk ternak daging.
  • Rasio antara konsentrat dan hijauan pakan.
  • Bentuk fisik pakan. (ukuran partikel)
  • Level intake
  • Frekuensi pemberian pakan.

Faktor lain yang mempengaruhi VFA adalah : Baca lebih lanjut

Energi Yang Dihasilkan Dari Pencernaan Karbohidrat

 

 

Energi Hasil Pencernaan Karbohidrat oleh Rumen

Dari dua tahap proses pencernaan karbohidrat didalam rumen ,dihasilkan sumber energi berupa ATP seperti berikut :

Tahap1:

  • Heksosa (senyawa-senyawa yang mempunyai atom karbon 6 buah) ï¿½ 2 Piruvat + 4 (H) + 2 ATP
  • Pentosa (senyawa-senyawa yang mempunyai atom karbon 5 buah) ï¿½ 1.67 Piruvat + 1.67 (H) + 1.67 ATP

Tahap 2:

  • 2 Piruvat + 2H2O ï¿½  2 Asam Asetat + 2 CO2 + 2 H2 + 2 ATP
  • 2 Piruvat + 8 (H)  ï¿½  2 Asam Propionat + 2 H2O + 2 ATP
  • 2 Piruvat + 4 (H)  ï¿½  Asam butirat + 2 H2 + 2 CO2 + 2 ATP

Energi yang dihasilkan tersebut akan digunakan untuk hidup pokok dan sintesis protein mikroba. Dengan cara demikian, mikroba akan memperbanyak diri, sehingga pada gilirannya mikroba-mikroba tersebut dapat dimanfaatkan oleh induk semang sebagai sumber protein yang bernilai hayati tinggi.

Inilah Metabolisme Karbohidrat Pada Ruminansia

Metabolisme Karbohidrat pada Ruminansia

Terdapat perbedaan mendasar antara ruminansia dan monogastrik dalam metabolisme karbohidrat, yaitu: jalur metabolisme dan produk akhir yang dihasilkan.

Tanaman makanan ternak mengandung: 20 � 30% BK selulosa, 14 � 20% BK hemiselulosa, dan kurang dari 10% BK pektin dimana 2 -12% BK adalah lignin.

Ruminansia mempunyai mikroorganisme di dalam retikulorumen yang mensekresikan enzim-enzim sehingga dapat mencerna makanan yang masuk.Bagian terbesar karbohidrat terdiri dari: yang mudah larut (gula dan pati) dan yang sukar larut (selulosa dan hemiselulosa, misal hijauan dan limbah serat). Keduanya ini difermentasikan oleh mikroba rumen membentuk VFA (asam lemak terbang/atsiri) di dalam rumen dan retikulum. Pemecahan  karbohidrat menjadi VFA terjadi di rumen terdiri dari 2 tahap: 1). Hidrolisis ekstraseluler dari karbohidrat kompleks (selulosa, hemiselulosa, pektin) menjadi oligosakarida rantai pendek terutama disakarida (selobiosa, maltosa, pentosa) dan gula-gula sederhana. 2). Pemecahan oligosakarida dan gula-gula sederhana menjadi VFA oleh aktifitas enzim intraseluler. Proses ini ditampilkan pada Gambar 4.2. dan 4.3.

Komposisi VFA terbanyak di dalam cairan rumen adalah: asam asetat, propionat dan butirat sedangkan yang dalam jumlah kecil: asam format, isobutirat, valerat, isovalerat dan kaproat. Pemecahan protein oleh bakteri juga menghasilkan asam lemak berantai cabang yang terdapat dalam jumlah kecil tersebut.

Dalam pencernaan  ini dihasilkan pula produk ikutan berupa beberapa gas: metan (CH4), CO2 dan H2; yang dikeluarkan dari tubuh melalui proses eruktasi (belching/ bersendawa). Baca lebih lanjut